
Kali ini, Tere Liye mengangkat kisah yang mengagumkan tentang makna kehilangan dan kesempatan. Bercerita tentang sebuah keluarga kecil di Lombok, di pinggir pantai yang indah, dan dikelilingi oleh warga dan turis yang ramah serta baik hati.
Tentang perjuangan seorang dalam buku tersebut untuk berjuang menghadapi keterpurukannya. Makna kesempatan dalam hidup yang selalu datang.
Ada Tegar Karang, pemuda yang meraih kesuksesannya di sebuah perusahaan sekuritas di Jakarta. Ia bangkit setelah 5 tahun lamanya tenggelam dalam patah hatinya akibat teman terdekatnya sejak kecil, Rosie, menikah dengan teman kuliah yang baru dikenal Rosie dua bulan terakhir.
“20 tahun kedekatan mereka terkalahkan oleh 2 bulan perkenalan”
Hingga suatu hari, suatu bencana besar menimpa keluarga kecil Rosie, yang telah memiliki 4 orang gadis kecil, yang orang menyebutnya, ‘bunga yang sedang merekah’. Tegar yang telah menjadi Paman yang baik, memutuskan untuk menjadi bagian dari keluarga kecil yang tengah terporak-poranda akibat bencana tersebut. Meninggalkan Jakarta dan Sekar, gadis yang akan dinikahinya.
Tragis memang, bencana yang menimpa keluarga itu. Trauma yang mendalam membuat sang ibu harus menjalani hari-harinya dengan berat. Sedang, lihatlah anak-anaknya, yang sedang tumbuh dengan hebat dan cepatnya.
Hingga akhirnya, sebuah kesempatan datang lagi, dan Tegar harus memilih. Saat Sekar muncul kembali dihadapannya seakan menagih janji dua tahun yang ditinggalkannya, dan saat itu, Rosie telah pulih. Padahal, hati Tegar sudah sempurna jatuh pada anak-anak Rosie dan Gili Trawangan.
Pilihan apakah yang dipilih? Sedang kesempatan memiliki banyak makna.
Ini khas seperti novel Tere Liye yang lain. Kalau aku boleh nyamain, hampir mirip sama yang “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”. Gayanya juga. Beda banget sama novel yang rilis setelahnya, “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah” yang nyatanya aku baca dan beli duluan. Kalau yang satu itu beda banget, lebih santai dan banyak humor.
Overall bagus meski nggak bikin aku setermehek-mehek seperti setelah baca “Bidadari-bidadari Surga” dan “Hafalan Sholat Delisa”.