0

Move On

Bismillah,

(Mumpung lagi semangat buat nge-post panjang)

Sehabis maghrib tadi, sempat ngobrol-ngobrol lama sama umik abi. Hm, tentang kuliah. Aku mau dimana, dan bagaimana aku kesana.

Jelas mereka khawatir. Terutama umik. Sejak beberapa minggu yang lalu, entah kenapa tiba-tiba aku disuruh berpikir ulang tentang fsrd ini. “Kamu beneran nggak mau di UI atau UGM aja ta lin? fsrd berat lho saingannya….,”

Itu.

Selama ini waktu dibilang seperti itu aku masih nggak sadar, apasih yang bikin nggak setuju aku disana…., tapi tadi jadi jelas.

Umik khawatir aku terlalu ‘buta’ untuk kesana, jadi nggak mempertimbangkan banyak faktor akhirnya malah jatuh dan nggak dapet apa-apa. “fsrd itu berat lho lin masuknya, saingannya dari mana-mana. kamu pelajari dulu track record-nya… siapa aja yang masuk sana, gimana masuknya,”

Nah. Bukan maksud masuk kampus lainnya lebih gampang… Tapi kalau dipikir-pikir, fsrd itu sekarang jadi semacam destinasi buat ‘seniman-seniman’. Selain ikj lho ya. Dan jelas, tadi waktu aku menyebut ikj, langsung ditolak mentah-mentah. Seperti di sekolahku aja, anak-anak yang pingin masuk seni semuanya pada lari ke fsrd. Dan pasti itu juga berlaku buat sekolah lain kan ya.

Belum untuk seleksi masuknya. Beberapa hari yang lalu, waktu web snmptn muncul, aku langsung down. Down se down-downnya. Sampai bahkan curhat ke Bujel yang waktu itu juga galau buat apply ke NTU. Yang kita galaukan saat itu sama, portofolio. Apa itu portofolio? Aku juga nggak tau. Tapi yang aku tangkap dan dari penjelasan Bujel tentang portofolio buat apply ke NTU, semacam hasil-hasil karya dan kalau NTU ada semacam tugasnya juga buat persyaratan.

Nah loh!

Karya apa coba yang udah aku bikin? Duh, paling karya abal-abal yang nggak jelas maksud dan bentuknya. Jelas itu nggak bisa dimasukkan daftar. Aku langsung galau setengah mati. Langsung bingung. Pasrah.

Tapi yasudah, itu tantangan. Bagaimana caranya selama liburan ini aku bisa manfaatkan dengan maksimal.

Kembali lagi, selain mengkhawatirkan tentang gimana aku masuk kesana, ternyata orang tuaku juga ndukung. Apalagi keluarga besar abi memang dari sononya punya bakat seni semua. Dari abi sendiri aja udah dari sononya gambarnya bagus pake banget banget. Dari kecil! Berapa banyak coba lukisannya abi yang dipajang di rumah mbah kakung. Bahkan aku pernah liat satu album yg isinya karyanya abi semua dari TK sampai SD yang udah kayak pro banget. Belum lagi pakpoh dan bulekku yang juga pinter nyanyi, gambar juga, trus seni yang lain.

Aku langsung ciut.

Dan bentuk motivasi yang lain, semacam “kamu mau ta di les kan nggambar?” oh, aku langsung seneng banget. Ya meskipun belum tau kesampaian atau enggak. Semenjak kelas 12 awal dan memutuskan berubah haluan, aku sudah mulai serius mencari tau. Tepatnya akhir akhir ini sih. Dan ternyata, banyak banget yang aku masih perlu pelajari! Dari teknik dan sebagainya. Oh. Dan itu luar biasa butuh kerja keras apalagi aku juga harus fokus belajar unas dan ujian-ujian kelulusan lainnya yang nggak kalah menyita waktu.

Tapi tetep, diakhir tadi umik masih mengkhawatirkan gimana aku bisa kesana. Seperti yang dibilang ibuknya bik juga waktu aku konsultasi. “Sekarang masalahnya, gimana kamu kesana lin”

Aku tetep harus pertimbangin mateng-mateng, pilihan-pilihan lain selain fsrd. Nggak boleh buta gitu aja. Umik masih mempertimbangkan psikologi. Mungkin karena proses masuknya yang nggak membuatku harus belajar ekstra dua kali. Dan jelas jauh nggak seribet ini. Juga pilihan universitas lain seperti swasta buat semacam jaga-jaga. Yang kualitasnya juga bagus. Apalagi buat jurusan desain, universitas swasta juga buanyak yang bagus.

Tapi ya tetep, kalau bisa itb kenapa harus yang lain coba?

Hap hap hap. Masih harus berjuang banyak. Sekarang di kepalaku yang ada cuma itu. Dan aku bener-bener sudah move on dari yang jurusan sebelumnya. Sudah nggak bisa mikirin hal lain selain itu, haha.

Tapi nggak buta, lho ya ;)

0

Berapa Lama Lagi ?

Ada yang pernah punya trauma?

Entah kalau ini bisa disebut trauma apa enggak, tapi apa coba namanya, bertahun-tahun menjauhkan diri dari sesuatu. Bener-bener nggak nyentuh sama sekali, deket-deket aja enggan.

Nah!

Banyak perasaan bersalah sih, terutama buat badan sendiri. Masalahnya ini bukan sesuatu yang emang harus dihindari (seperti kasus orang trauma kecoa atau tinggi dan sebagainya). Tapi ini sesuatu yang justru dibutuhkan banget.

Mulanya ya biasa aja, semacam ‘oh, aku nggak bakal deket-deket sama hal itu. aku nggak suka,’

Tapi bertahun-tahun berlalu sudah. Satu tahun, dua tahun, empat tahun, sampai kemudian menjadi enam tahun….

Bayangkan selama itu kamu nggak memasukkan asupan protein ikan ke tubuhmu sama sekali…. Ya, bertahun-tahun ini aku menjauhi konsumsi ikan dan seafood dan sejenisnya (kecuali kerang, entah kenapa aku masih bisa mentolerir makanan jenis ini)

Padahal kalau melihat ke belakang, bertahun-tahun lalu, aku termasuk salah satu penggemar beratnya. Aku suka pepes ikan, aku suka menu ikan padang, aku suka pindang. Tapi itu bener-bener dulu. Dan sekarang aku sudah lupa rasanya semua makanan-makanan itu.

Setiap suatu hal pasti ada sebab-akibat kan?

Yang pasti, suatu hari aku mengalami suatu hal, yang membuat aku nggak suka makan ikan. Titik. Membuat aku selalu menjauh dari dapur dan tempat manapun ketika dari radius beberapa meter sudah ada bau ikan. Sampai kemudian sekeluarga mengalah dengan ketidaksukaanku ini. Umik jarang masak ikan lagi…, padahal semuanya suka. Kalaupun masak, selalu masak menu lain buat alternatif makanku. Pokoknya bukan ikan. Dan kalau makan di rumah makan seafood, aku sendirian makan menu pilihanku, yang lainnya pada komentar menu ikan di tempat itu.

Merepotkan.

Tapi kemudian akhir-akhir ini aku mulai mencoba mengatasi ketidaksukaanku ini. Sadar aku juga butuh, pelan-pelan aku bisa nyoba. Tapi pelan-pelaaaaaaaaannn banget, dan harus ada jaminan, nggak ada rasa amis sama sekali.

Dan malam ini, sepulang Almas dari Delta Fishing, membawa sekardus ikan bakar hasil pancingannya. Orang rumah pada malas makan, akhirnya aku pelan-pelan ikut nyincipi. Setidaknya aku bisa bertahan beberapa saat. Tapi menyebalkannya, aku yang lama nggak makan ikan lupa fakta soal duri. Dan sukses, sebuah duri kecil nyangkut di tenggorokan.

Masih nyangkut. Nggak bisa keluar. Sakit.

Sudah mencoba banyak cara dan percuma. Sampai sekarang aku nulis. Seperti sesuatu yg nggak bisa keluar dengan gampang, durinya di langit-langit, kecil, dan bener-bener mengganggu.

Dan entah, mungkin aku bakal nggak suka lagi. Berapa lama lagi?

Kutipan
0

Ketika rasa optimis dan pesimis itu bergantian naik dan turun seperti bianglala………………….

Serius iki, nyemangatin diri sendiri itu juwauh lebih susah daripada ke orang lain. Nggak boleh down tapi kan ya. Kayak jungkir balik.

0

Selamat Datang

Halo, bagaimana kabar liburan ini? Kau?

Mereka bilang, siap-siap saja, banyak kejutan menanti.

Tapi percuma, aku telah tahu.

Akhir taun telah menanti kan…

 

Bagaimana kabar?

Bagaimana liburan ini kau habiskan?

Seperti apakah kau menanti?

Dan aku masih tetap menunggu kisahmu…

 

Apakah kau telah siap?

Apakah semangat itu masih tetap akan kau sampaikan?

Apakah perjuangan selaras ini masih akan kau pertahankan?

Mungkin kau tak tahu, tapi aku menantinya…

 

Selamat datang,

Ia yang ditunggu telah datang, lantas, mau seperti apalagi?

Kau akan jadi seperti apa?

0

seperti itulah aku

dengan cinta,

setiap pengorbanan tak akan berbuah sia

hanya ikhlas yang tersisa,

bersama tulus sebening tetes hujan

mengalirkan harapan untuk kebaikan dan perubahan besar

seperti cinta yang melahirkanku dan membawaku bersama kalian

 

alirkanlah cinta ini,

untuk terus kau sebarkan dan kisahkan pada generasi hebat yang akan kau lahirkan kelak

cintai seperti ia selalu ada bersama kalian

nyawa yang ingin kau lindungi

ia terkasihmu

 

karena,

seperti itulah aku mencinta

0

Masih Buta

“Buah tak pernah jatuh jauh dari pohonnya”

Saya sering berharap, kata-kata ini benar.

Dari dulu (sampai sekarang), saya selalu berharap punya bakat sehebat apa yang dimiliki ayah saya. Setidaknya sedikiiit saja. Dengan begitu mungkin saya akan lebih sedikit punya percaya diri. Mungkin dengan begitu saya benar-benar mantap dari awal mengenal mimpi.

Kalau bisa, jangan jadi seperti ini”

Mengatakan hal seperti ini ketika saya masih sangat kecil. Belum mengerti betul akan mimpi. Dan seketika saya mengambil sebuah kesimpulan. Saya mematikannya. Tapi toh, setiap hari saya dijejalkan hal seperti itu. Terus.

Dan akhirnya, keinginan itu datang lagi. Tanpa ampun, ketika harapan benar-benar menjadi kosong. Mimpi terpendam yang menjadi omong kosong.

Setelah diskusi saya malam ini dengan ayah,  saya menarik banyak kesimpulan,

1. Awalnya, mungkin pilihan itu tidak baik untuk saya. Dengan segala prospek futuristik yang menjadi tantangan saya di masa depan nanti. Seperti peluang dan segala macam.

2. Hal itu ternyata tidak buruk juga. Peluang kan bisa diciptakan sendiri dengan banyak ide kreatif.

3. Dengan segala keminiman kemampuan dan bakat, mungkin itu tidak jadi masalah. Toh bakat itu kebiasaan kan.

4. Jika itu menjadi nyata, saya belum menyusun bayang, seperti apa cara bertahan saya. Apakah itu benar-benar ‘jalan’ saya? atau hanya mimpi semu yang tak pernah punya akhir?

5. Akhirnya saya benar-benar ‘galau’.

6. Saya memutuskan, bahwa mimpi itu akan menjadi salah satu mimpi terpendam yang berada di dasar. Entah bisa keluar atau tidak. Tapi akan terus menjadi mimpi. Semacam obsesi juga. Tapi bukan orientasi.

Dari beragam kesimpulan itu, saya memilih opsi 6. Saya masih buta, terlalu buta hingga tak bisa membedakan mana jalan yang baik dan tidak.

Meski semakin dekat saja ujungnya, tapi memantapkan semua itu butuh proses, kurasa. Mungkin kelak, bukan kedua mimpi yang saya pikirkan saat ini yang menjadi nyata, mungkin hal lain. Atau mungkin salah satu. Yang tidak pernah terpikir sama sekali.

Dan diakhir, saya menyimpulkan banyak dari tulisan saya. Saya ini lucu sekali.

0

wait and see

Gambar

kau bertanya, apa yang harus kau lakukan?

duduk sajalah kau, seperti aku kini

tatapi saja butiran pasir waktu itu turun satu per satu

dan kita lihat, siapa yang akhirnya sanggup bersabar menunggu

 

tenang, aku juga dengan sabar duduk disini

banyak hal yang harus kusiapkan

sampai genderang perang itu bertabuh memekakkan telinga

aku akan tetap duduk disini

lalu kita lihat, jawaban apa yang Ia berikan

dan aku akan belajar menjadi kilat untuk menyongsongnya

sungguh deh

 

biarkan aku menyebut ini sebagai ‘tekad dan ambisi’

cukup kan?