Bismillah,
(Mumpung lagi semangat buat nge-post panjang)
Sehabis maghrib tadi, sempat ngobrol-ngobrol lama sama umik abi. Hm, tentang kuliah. Aku mau dimana, dan bagaimana aku kesana.
Jelas mereka khawatir. Terutama umik. Sejak beberapa minggu yang lalu, entah kenapa tiba-tiba aku disuruh berpikir ulang tentang fsrd ini. “Kamu beneran nggak mau di UI atau UGM aja ta lin? fsrd berat lho saingannya….,”
Itu.
Selama ini waktu dibilang seperti itu aku masih nggak sadar, apasih yang bikin nggak setuju aku disana…., tapi tadi jadi jelas.
Umik khawatir aku terlalu ‘buta’ untuk kesana, jadi nggak mempertimbangkan banyak faktor akhirnya malah jatuh dan nggak dapet apa-apa. “fsrd itu berat lho lin masuknya, saingannya dari mana-mana. kamu pelajari dulu track record-nya… siapa aja yang masuk sana, gimana masuknya,”
Nah. Bukan maksud masuk kampus lainnya lebih gampang… Tapi kalau dipikir-pikir, fsrd itu sekarang jadi semacam destinasi buat ‘seniman-seniman’. Selain ikj lho ya. Dan jelas, tadi waktu aku menyebut ikj, langsung ditolak mentah-mentah. Seperti di sekolahku aja, anak-anak yang pingin masuk seni semuanya pada lari ke fsrd. Dan pasti itu juga berlaku buat sekolah lain kan ya.
Belum untuk seleksi masuknya. Beberapa hari yang lalu, waktu web snmptn muncul, aku langsung down. Down se down-downnya. Sampai bahkan curhat ke Bujel yang waktu itu juga galau buat apply ke NTU. Yang kita galaukan saat itu sama, portofolio. Apa itu portofolio? Aku juga nggak tau. Tapi yang aku tangkap dan dari penjelasan Bujel tentang portofolio buat apply ke NTU, semacam hasil-hasil karya dan kalau NTU ada semacam tugasnya juga buat persyaratan.
Nah loh!
Karya apa coba yang udah aku bikin? Duh, paling karya abal-abal yang nggak jelas maksud dan bentuknya. Jelas itu nggak bisa dimasukkan daftar. Aku langsung galau setengah mati. Langsung bingung. Pasrah.
Tapi yasudah, itu tantangan. Bagaimana caranya selama liburan ini aku bisa manfaatkan dengan maksimal.
Kembali lagi, selain mengkhawatirkan tentang gimana aku masuk kesana, ternyata orang tuaku juga ndukung. Apalagi keluarga besar abi memang dari sononya punya bakat seni semua. Dari abi sendiri aja udah dari sononya gambarnya bagus pake banget banget. Dari kecil! Berapa banyak coba lukisannya abi yang dipajang di rumah mbah kakung. Bahkan aku pernah liat satu album yg isinya karyanya abi semua dari TK sampai SD yang udah kayak pro banget. Belum lagi pakpoh dan bulekku yang juga pinter nyanyi, gambar juga, trus seni yang lain.
Aku langsung ciut.
Dan bentuk motivasi yang lain, semacam “kamu mau ta di les kan nggambar?” oh, aku langsung seneng banget. Ya meskipun belum tau kesampaian atau enggak. Semenjak kelas 12 awal dan memutuskan berubah haluan, aku sudah mulai serius mencari tau. Tepatnya akhir akhir ini sih. Dan ternyata, banyak banget yang aku masih perlu pelajari! Dari teknik dan sebagainya. Oh. Dan itu luar biasa butuh kerja keras apalagi aku juga harus fokus belajar unas dan ujian-ujian kelulusan lainnya yang nggak kalah menyita waktu.
Tapi tetep, diakhir tadi umik masih mengkhawatirkan gimana aku bisa kesana. Seperti yang dibilang ibuknya bik juga waktu aku konsultasi. “Sekarang masalahnya, gimana kamu kesana lin”
Aku tetep harus pertimbangin mateng-mateng, pilihan-pilihan lain selain fsrd. Nggak boleh buta gitu aja. Umik masih mempertimbangkan psikologi. Mungkin karena proses masuknya yang nggak membuatku harus belajar ekstra dua kali. Dan jelas jauh nggak seribet ini. Juga pilihan universitas lain seperti swasta buat semacam jaga-jaga. Yang kualitasnya juga bagus. Apalagi buat jurusan desain, universitas swasta juga buanyak yang bagus.
Tapi ya tetep, kalau bisa itb kenapa harus yang lain coba?
Hap hap hap. Masih harus berjuang banyak. Sekarang di kepalaku yang ada cuma itu. Dan aku bener-bener sudah move on dari yang jurusan sebelumnya. Sudah nggak bisa mikirin hal lain selain itu, haha.
Tapi nggak buta, lho ya
